Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts

Tuesday, 12 March 2019

Perpustakaan Unsyiah: Destinasi Wisata Literasi Aceh Masa Kini

BY Unknown IN , , , , , 4 comments

Aceh merupakan daerah yang berupaya bangkit dari keterpurukan konflik dan bencana dengan  membuka diri melalui pembangunan berbagai destinasi wisata. Museum Tsunami dan Kapal Apung menjadi 'daftar wajib kunjung' bagi wisatawan. Tarian saman dan ragam budaya menjadi tujuan wisata yang menawan. Pulau Sabang yang eksotis hingga destinasi wisata alam lainnya menjadi destinasi pilihan turis dunia. Ada hal lain yang tak boleh luput dari perhatian untuk diperkenalkan pada wisatawan. Aceh memiliki destinasi wisata literasi masa kini, UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (selanjutnya disingkat Unsyiah), salah satu pustaka yang berjejar di antara pustaka lain yang berkelas di dunia. Perkembangan dan kemajuan Pustaka Unsyiah adalah spirit baru serta menjadi titik tolak menuju peradaban literasi dunia muslim layaknya Cordoba masa lalu.


Sumber: library.unsyiah.ac.id.


Destinasi wisata literasi kelas dunia sudah sepatutnya disematkan bersama nama Pustaka Unsyiah. Perpustakaan yang berdiri sejak 1970 ini setiap hari terus berinovasi bahkan komitmennya  menjadi terkemuka di Asia Tenggara sudah mulai terwujud. Ada alasan kuat mengapa Pustaka Unsyiah menjadi destinasi literasi Aceh Masa Kini, sebab Pustaka Unsyiah hadir dengan public service yang mobile dan berkelas, baik secara fasilitas  mau pun pelayanannya, baik koleksi berbentuk hardcopy bahkan hingga aplikasi pustaka bernama UILIS Unsyiah yang mengikuti perkembangan teknologi masa kini.



Dalam perkembangan peradaban literasi, sebenarnya Aceh sudah sejak dulu telah ikut serta memperkaya khazanah literasi nusantara. Ulama Aceh seperti Hamzah fansuri dan Syaikh Abdurrauf As-Singkili, seorang ulama yang disemat namanya, Syiah Kuala, untuk nama Universitas saat ini, telah jauh hari memberikan sumbangsih literasi dan menjadikan Aceh sebagai destinasi rujukan literasi Islam bahkan di Asia Tenggara. Saat ini Pustaka Unsyiah juga hadir sebagai destinasi literasi bagi para akademisi dalam negeri hingga manca negara. Berbagai prestasi dari segi sistem penjaminan mutu yang diperoleh dan jumlah pengunjung yang terus bertambah menunjukkan Pustaka Unsyiah saat ini menjadi Pustaka Perguruan tinggi yang dirujuk oleh Pustaka lainnya.

Pustaka Unsyiah telah mengantongi standar penilaian pustaka dari Pepustakaan Nasional Republik Indonesia dengan capaian akreditasi A bahkan berhasil pula memboyong sertifikasi kelas dunia. Pada tahun 2018 lalu, Pustaka Unsyiah menjadi satu-satunya PTN di Indonesia yang mengantongi ISO 27001 dalam lingkup Security Information Library System: OPAC, OER and Room Booking dari TUV Rheinland (lembaga sertifikasi) anggota DAkkS (Komite kreditasi Nasional Jerman). 


Berkaca pada sederat reputasi yang telah diperoleh, Pustaka Unsyiah telah dijamin mutunya oleh lembaga penjamin mutu internasional. ISO 27001:2013 mengindikasikan bahwa Pustaka Unsyiah memberikan jaminan pengendalian atas keamanan, kerahasiaan, dan ketersediaan layanan dengan mengamankan sumber daya informasi, menjalankan dua server redundant yang berlokasi di Banda Aceh dan Singapura yang slaing mereplikasi dan saling ambil alih secara otomatis jika ada gangguan pada salah satu server (Harian Serambi Indonesia, 16/8/2018). Sebelumnya juga Pustaka Unsyiah telah memperoleh sertifikasi penjaminn mutu ISO 9001:2015.


Tidak mengherankan jika pencapaian dalam hal keamanan ini  menjadi poin penting untuk memenuhi alasan mengapa Pustaka Unsyiah layak untuk dikunjungi bahkan menjadi objek studi banding dari pustaka lainnya. Pustaka Unsyiah saat ini menjadi destinasi literasi tidak hanya bagi civitas akademika Unsyiah namun juga bagi pengunjung luar kampus. Statistik pengunjung terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, tidak hanya pengunjung dari dalam negeri tetapi juga pengunjung dari berbagai negara.



Sumber: Instagram @upt_perpustakaan_unsyiah
Sumber: Instagram @upt_perpustakaan_unsyiah


Mulai dari literasi baca tulis hingga literasi digital, Pustaka Unsyiah punya semuanya. Jika menilik dari segi koleksi yang dimiliki, Pustaka Unsyiah saat ini telah menyimpan 136.925 eksemplar  tulisan tercetak (Sumber: library.unsyiah.ac.id, 2019). Tidak hanya itu, perpustakaan juga menyediakan literasi berbasis digital yang menyediakan e-journal dan e-book dari berbagai penerbit berlisensi.

Literasi berbasis digital juga menjadi inovasi yang telah lama dirambah oleh Pustaka Unsyiah. Melalui kanal uilis.unsyiah.ac.id., pengunjung dapat memperoleh berbagai bahan literasi di  UILIS (Unsyiah Integrates Library Information System). Klak klik sana sini, ETD, OPAC, Unsyiana, LSS dan fitur UILIS lainnya dapat diakses di mana pun, kapanpun. Begitu mudahnya berliterasi di portal aplikasi pustaka Unsyiah apalagi setelah Pustaka Unsyiah meluncurkan aplikasi UILIS berbasis android. Hal ini sangat bagus untuk para wisatawan yang ingin berliterasi via ponsel genggamnya. Mantap!

Sumber: library.unsyiah.ac.id

Kenyamanan pengunjung menjadi prioritas utama di Pustaka Unsyiah. Perpustakaan juga menerapkan aturan ketat seperti larangan membuang sampah dan larangan merokok dalam ruangan.  Tentu hal ini mencirikan bagaimana Pustaka Unsyiah begitu menjaga ranah adab dan etika. Hingga tidak heran, salah satu pepatah Arab al adaabu fauqal ‘ilmi, menjaga 'adab di atas ilmu' telah diimplementasikan dengan baik di sini. Hal ini membuat daya tarik bermuatan edukatif bagi pengunjung bahwa pustaka Unsyiah menjunjung tinggi nilai-nilai adab dan tentu ini memperlihatkan citra baik bagi Aceh yang mengimplementasikan Syariat Islam. Berdasarkan hal ini, pengunjung tentu akan merasa nyaman dan aman selama berada di pustaka. Tidak ada asap rokok berseliweran. Tidak ada sampah bertebaran. Tidak ada polusi suara selama di pustaka. Kenyamanan pengunjung selalu dinomorsatukan.

Agaknya Pustaka Unsyiah telah berhasil mematahkan argumen konvensional bahwa tidak boleh makan minum di pustaka. Jika dahulu banyak sekali pengunjung yang harus meninggalkan bahan bacaan saat ingin mengecap kopi yang harus dibeli dan diminum di luar pustaka. Namun Pustaka Unsyiah mengusung hal berbeda. life begins after coffee, istilah tersebut berlaku di sini. Saat mengunjungi pustaka  Unsyiah, pengunjung dapat berliterasi sambil ngopi. Begitu asyik, kan?


Sumber: Hipwee.com

Tentu hal ini pula yang akan menjadi daya tarik bagi wisatawan berkunjung ke Aceh beralasan ingin merasakan nikmatnya ngopi di Tanah Serambi Mekkah. Aceh pun saat ini dikenal dengan daerah 1001 warung kopi yang menyuguhkan kopi nikmat dengan harga bersahabat. Siapa sangka jika 'warung kopi' saat ini turut hadir di pustaka kampus jantong hatee rakyat Aceh. Jadi, tren baik berliterasi sambil ngopi sambil membangun jejaring dan menggali inspirasi dapat diwujudkan saat berkunjung ke mini cafe Pustaka Unsyiah.

Pustaka Unsyiah sesungguhnya telah memenuhi berbagai syarat yang dibutuhkan untuk menjadi  patut diperhitungkan sebagai destinasi wisata literasi Aceh masa kini. Mengintip gaya literasi modern ala pustaka unsyiah dari relax and easy yang menampilkan kreativitas mahasiswa di atas panggung hingga Unsyiah Library Fiesta 2019, even tahunan yang selalu dinantikan kehadirannya dan menjadi wadah kreativitas mahasiswa dalam berkarya.
Sumber: library.unsyiah.ac.id.


Pustaka Unsyiah juga begitu welcome menyambut pengunjung dari dunia nyata hingga dunia maya. Dari segi publikasi, Pustaka Unsyiah memiliki website library.unsyiah.ac.id. dan situs media sosial lainnya seperti facebook dan instagram yang update kegiatan pustaka setiap harinya. Jika ada masukan atau pertanyaan, admin selalu siap menjawab dalam waktu cepat. Akses informasi dan sosialisasi juga begitu baik dengan kehadiran UKM Literasi Informasi dan kehadiran Duta Baca Universitas Syiah Kuala.



Pecinta foto tentu sangat berbahagia berkunjung ke Pustaka Unsyiah. Pasalnya banyak spot yang sesuai untuk objek foto. Dinding-dinding pustaka dicat rapi dan berdesain modern. Ruang-ruang didekorasi penuh artistik. Pustaka Unsyiah juga menyediakan berbagai corner dari negara lain seperti korean corner yang menyediakan literasi budaya dari negeri ginseng.

Sumber: library.unsyiah.ac.id


Di Pustaka Unsyiah, tidak ada  tempat untuk laba-laba bersarang. Tidak ada buku-buku yang dijamah rayap. Buku-buku terus dijaga berjejar rapi oleh para staf khusus yang standby setiap hari. Fasilitas koneksi internet cepat dan fasilitas untuk melaksanakan ibadah dan kamar mandi selalu dijaga kebersihannya. Semua serba dijaga ketertiban, kerapian, dan kebersihannya hingga tidak heran jika mahasiswa betah berlama-lama duduk di Pustaka.


Sumber: library.unsyiah.ac.id


Dengan segala hal yang sudah disebutkan di atas, tentu sudah sepantasnya kita menjadikan Pustaka Unsyiah dalam daftar tempat wisata literasi yang wajib kita kunjungi. Marilah kita mendorong Pustaka Unsyiah agar selalu terdepan dalam fasilitas dan pelayanannya. Semoga peradaban Aceh ke depan dapat dibangun melalui kehadiran Pustaka Unsyiah sebagai destinasi wisata literasi kelas dunia.

Ditulis di Tanah Perjuangan Teuku Umar, 13 Maret 2019, oleh seorang ibu muda penggiat literasi, pembelajar seumur hidup bernama Hilda Rahmazani, alumnus PSPM FKIP Unsyiah 2017. Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog Unsyiah Library Fiesta 2019.



Sunday, 27 April 2014

Kecamuk Rindu Ini Bertalu-talu, Ya Nabiku

BY Unknown IN , No comments

abubakarmori.wordpress.com

Surat ini mengurai segenggam asa untuk Ikhwah fillah. Ditulis layaknya curahan hati seorang diri yang merindui. Meski tak puitis bertali romantis, inilah isi hati. Tulisan ini mengalir begitu saja, berbekal tulus seadanya. Semoga bermanfaat :)
Assalamualaikum-warahmatullahi-wabarakatuhu

Sepucuk surat perengkuh ukhuwah.
Dari seorang hamba yang kerdil di pelosok negeri Serambi Mekah.

Sejumput rindu padamu, Ya Rasulku, menikam hatiku yang mulai membatu, yang kaku terlilit benalu nafsu. Jiwa ini sungguh penat  menghardik diri yang remang akan cahaya taubat. Berawal dari hari lahirmu ini, ku tunaikan seutas pantas kalimat cinta yang disebut shalawatitu. 
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ‘alihiwashahabihi wasallim.
Tak pernah melihatmu adalah alasan yang membuat semangat ingin bertemu itu semakin menggebu. Sebuah nadi kehidupan telah ku ikrar: membayar harga apa pun di dunia untuk bertemu denganmu di akhirat. Rindu yang terangkai ku himpun untuk menggapai mahligai ukhuwah.

Seuntai maaf ku akadkan melalui perantara kalam ini. Ingin rasanya bertemu dikau, namunhati haruslah memantaskan diri. Ingin bercengkerama denganmu, orang nomor satu di bumi, namun perangai tak terangkai bak akhlak muliamu. Akankah diri ini terpaut dalam meraih syafaatmu, sementara jiwa jauh tak merengkuh sunnahmu?
Perihal shirah, satu dua kalimat yang ku ingat dari petuah guru agamaku dulu. Tertanggal pada 12 Rabiul Awal 571 M, lahirlah Engkau dari wanita mulia bernama Aminah. Malam tenang dengan purnama benderang menyibak suka akan lahirnya Muhammad bin Abdullah, insan cemerlang pelita alam.
YaRasulullah, mengingat minimnya memoriku tentangmu, buat jiwaku kalut bercarut kemelut. Hanya beberapa potong kisahmu yang ku tahu. Betapa banyak hari yang terlalui untuk belajar, namun kerap ku abai akan shirahmu. Ku junjung setiap waktu mengejar ilmu dunia, namun tak fokus pada ilmu akhirat. Ketika ku jejaki madrasah tempo hari, berbagai catatan tentangmuterangkai rapi namun nyaris usang ditelan zaman, tak tersentuh lagi. Profilmu tinggal nama dalam diri ini, tak mengakar lagi menjadi pedoman jalan bagi hatidalam berekspresi. Astaghfirullah.
Aku bertekad pasti, insyaAllah shirah mu akan ku babat habis menjadi bekal yang kekal. Perintah Allah dan perintahmu,Rasulullah SAW. menjadi rangkaian ketaatan kentara tiada tara dalam hidup.
Teringat aku, Ya Rasulullah, ketika saudara seiman memekik sakit karena rudal dan peluruyang berderu-deru beberapa waktu lalu. Kepelikan saudara seiman sekilas melintas seperti angin lalu. Aku pangling akan seruan mereka yang memohon umatagar bersatu. Tak hanya itu, aku juga acuh terhadap berbagai masalah umat diIndonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar di bumi ini. Apakah aku layak menggolongkan diri sebagai umatmu sementara aku berwajah masam mendengar seruanuntuk berada pada shafmuslimin yangpadu? 
Tidaklah beriman seseorang muslim sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sungguh, hadis shahih itu telah terpatri lama di benakku. Namun mengapa aku tidak peka pada bencana kemanusiaan yang menimpa tubuh umat Islam?
Terkadang tangan tergepal ingin memukul mundur kafir laknatullah itu dari tanah saudara seimanku, namun marah itu hanya sebatas sulut. Melihat kemaksiatan di depan mata saja ragaku gentar, lidahku kelu. Hanya hati yang mampu berkata tidak dengan suara serak. Kakiku kaku membeku, tak bisa melangkah hentikan perkara mungkar.
Apa yang ku suratkan ini siratkan sebuah benci terhadap ketidak-kokohan persatuan umat hari ini. Namun kebencian itu jelas tak sinkron dengan sikapku tempo waktu yang acuh terhadap kebersatuan umat. Sungguh sikap abai itu tak memerikan akhlakmu. Taubat -salah satunya yang ku tempuh melalui surat ini- selalu jadi sebuahjawab untuk diri yang tak malu berperilaku cela, sebagai penghapus dosa di masalalu.
RasulullahMuhammad SAW. engkau adalah khatimul anbiyaa, penutup para Nabi. Namun hari ini, mereka berani menyeruakkan suara bahwa ada nabi setelahmu. Sungguh kesesatan merajalela, pendangkalan akidah menantang iman umat. Berkoar-koar para penyesat itu menyulut api kebencian pada aqidah yang benar. Sungguh saat persatuan ummat termajinalkan, cacian danolokan kafir pun akan berani  menggema mengangkasa.

Di akhir zaman ini, ya Rasulullah, umatmu tersebar di segala penjuru bumi. Keberagaman bahasa, bangsa dan suku mewarnai perbedaan. Sungguh itu bukan masalah dalam merealisasikan niat bersatu padu menegakkan tauhid. Namun milyaran jiwa berstatus muslim itu nyatanya bagai buih di lautan, mudah diombang-ambing bahkan dihancurkan.
Terkadang perbedaan menjadi pangkal perpecahan. Hingga ketika saudara muslim di belahanbumi lain saling perang, juga ketika kafir menyerang, umat tak berdaya.Terlebih diri ini nyatanya hanya mampu memaku diri menonton duka. Bukannya bertindak, yang tampak hanyalah air wajah tanpa ekspresi, hanya tatapan kosong.
Kulihat diriku pesimis menjejak tindak. Malu berdakwah, terkadang seganmenggemakan ayat Allah. Takut dunia menghimpit, takut urusan hidup menjadipelik. Takut seluruh dunia memandang sinis, khawatir teriakan lantang membenci perang dan kekufuran itu membuat diri dipecat dari instansi. Astaghfirullah.
Namun ku yakin, masih ada hari untuk berubah; selama nyawa masih belum sampai ditenggorokan. Ya Allah, paripurnakanlah niat dan langkahku untuk berubah,menjadi sebenar-benar hamba dan umat. Perlahan kini ku ukir kembali niatmenggamit syahdu perangai Rasul. Melayakkan diri menjadi umatmu yang kau cintaadalah pilihan, merajai hati memikul jihad perangi kebathilan dan kebodohan kini bulat menjadi tekad.
Ku lirik lagi sepenggal sejarah yang menggetarkan kalbu. Betapa engkau, pada tanggal 13 Rabiul Awal 11 H, menyelipkan kata ‘Ummati’ di penghujung umurmu.Sungguh khawatir engkau akan kondisi umat sepeninggalmu, sungguh dalamcintamu akan kami, umatmu.
YaRasulullah, eksistensi akhlakmu akan paripurna sempurna hingga akhir masa. Ikrarku kini: salah satu penjaga kesempurnaan sunnah itu adalah aku. Ku cobanahkodai pola pikir dengan Al-Quran dan sunnah, hadapi carut marut hidup denganaqidah yang kaffah.  Jika seluruh bumi memijak, menghentak, menyeruakkan pedang untuk memerangi niat tulusku mencintaimu, ku lantangkan satu suara bahwa engkau takkan terpisahkan dari hatiku.
Dihari maulid Nabi ini, ku harapkan satu nikmat indah kembali seperti masamu, yakni terekat kembali ukhuwah islamiyah. Dendam dan perang yang pernah tersulut semoga  tergantikan jadi benderang cinta. Umat yangsatu itu kembali, hingga mudahlah kebodohan dan kesesatan diperangi. Ridha Allah menjadi bekal, semerbak kasturi menjadi hadiah yang kekal.
Kujadikan surat ini tak sekedar bukti rindu, namun juga seruan bagi umat untukbersatu. Memaknai perbedaan adalah sebuah keniscayaan, merealisasikan persatuan adalah keharusan.
Janji ini menjadi akad yang terpatri dalam sehari semalam shalatku. Realisasi syahadat sebagai kesungguhan bukti bakti dalam hidup harus tertunai dengan menyemai bibit kebajikan dalam hidup, saling menasehati: sikap umat yang saling menyatu.
Semangat mencintaimu akan ku gelorakan saban waktu. Persembahkan kalam shalawat ini ku ucap sepenuh kalbu, bukan perihal diri rindu syafaat, namun karena aku sungguh mencintaimu.
Allahumma shalli ‘ala sayyidinaMuhammad wa’ala alihi washahbihi wasallim.

Wassalamualaikum-warahmatullahi-wabarakatuhu

Penulis bernama Hilda Rahmazani, mahasiswi FKIP Matematika Unsyiah angkatan 2012. Email: hildarahmazani@gmail.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Menulis Surat Cinta Untuk Rasulullah, Radio Seulaweut 91 FM 

Sumber foto: 
twitter.com
Sumber foto: twitter.com

Sumber foto:  cinqleafclover.blogspot.com
Sumber foto: cinqleafclover.blogspot.com




Sumber foto:  kutipanislam.wordpress.com
Sumber foto: kutipanislam.wordpress.com

Tuesday, 22 April 2014

Everlasting*

BY Unknown IN , No comments

Teruntuk jiwa yang sedang didera rasa suka, hehe, ini ada beberapa kalimat miliknya *Darwis Tere Liye, Everlasting. Saya memperoleh kalimat2 ini dari seorang karib yang senantiasa hadir memberi petuah bijak. How sweet is it, alhamdulillah. Semoga Allah membalas kebaikannya. Awalnya hanya terdiri dari satu paragraf panjang, namun saya coba penggal jadi beberapa bagian agar mudah dibaca. Maaf jika penggalan paragrafnya kurang mengena. Selamat menyimak, teman. :)


Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. 

Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat, sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. 

Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu. Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. 

Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. 


Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya. Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. 

Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030. 

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. 

Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan. Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg jelas- jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart. 

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta. 

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: “ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak. Ini proses cinta kebanyakan. 

Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemah aman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera.

Friday, 21 March 2014

Antara Cinta dan Kata 'Jadian'

BY Unknown IN No comments

Bila memang cinta, menikahlah jawabannya. Tinggalkan pacaran, hubungan tanpa status yang  mengundang murka-Nya. Perilaku durhaka penabung dosa itu hanya akan berujung sengsara. Sementara ketaatan pada Allah, pada awal hingga akhirnya bermuara pada bahagia hakiki selamanya. 

Aku selalu salut pada ia yang menempatkan cinta pada tempatnya. Mereka selalu sadar, apa yang yang mereka cari adalah ridha-Nya dan siapa yang mereka tuju adalah Allah semata. Tak memekat dosa dalam hatinya. Sebersih mata air hati dan jiwanya.

Kalau memang cinta, nyatakan itu dengan cara yang mulia. Temui orang tuanya, pinanglah ia. Cinta yang tulus adanya tak bebas berbuat namun selalu bersyariat. Mengerti hukum dan melaksanakannya dengan tulus dan taat.

Menyuarakan syariah-Nya yang merupakan kewajiban terkadang justru menjadi menjadi momok yang menakutkan tak terkecuali bagi kalangan muda. Realita bahwa seorang sahabat rela berdusta, menyetujui temannya berpacaran karena takut persahabatannya retak. Apakah disebut seorang teman ketika ia membiarkan sahabatnya terlena dalam maksiat?

Sungguh maksiat yang mengatas-namakan cinta semakin merajalela. Tidak hanya remaja, bahkan anak-anak pun mengenal kata 'jadian' dengan perspektif dewasa.

Pacaran itu agaknya sudah mengakar dalam masyarakat. Tetap dijalani meski tahu apa resiko bagi diri di dunia dan akhirat. Maksiat itu kadang halus adanya, tampak indah namun pahit esensinya.

Syaitan itu musuh yang nyata. Tak akan berhenti menggoda hingga kita berkarib bersamanya. Hingga sangkakala tertiup ia telah ikrarkan akan goda manusia berpaling dari-Nya. Jalan maksiat itu banyak, jangan sampai kita lalai, terjerumus menjadi penduduk jahannam. Naudzubillah.

Melalui perasaan dan cinta seharusnya kita kuat. Bukan malah menjadi bumerang bagi diri, terkalahkan pada perasaan yang seharusnya terkendali.

Dunia sekarang akan semakin menghimpit bagi jiwa yang sempit dari aqidah yang benar. Godaan mata semakin menggila. Misalnya saja dengan kehadiran internet, penyedia jutaan situs dengan beragam motif baik dan buruk. Sekali 'klik' saja, 'dunia' seseorang dapat terkendali oleh apa yang ia pilih. Apa yang haram dilihat menjadi tontonan yang biasa. Apa yang tak boleh diucap malah menjadi kata yang diusung manja oleh lidah. Apa yang haram dilakukan -seperti mendekati zina- justru dianggap lumrah adanya.

Ketahuilah, cinta  tidak seharga coklat dan bunga, juga tak sesimpel rayuan manja. Bahkan memiliki seseorang hanya diikrar dengan kata 'iya, kita jadian'. Putus hubungan yang menyayat jiwa bahkan hanya dengan kata 'kita putus aja'. Begitukah cinta yang ingin kau perjuangkan? Hanya bermodal rayu manja, kau berikan ia waktumu, hatimu, bahkan segala yang kau punya?

Cukuplah akad yang ia ucap di depan walimu menjadi pengekal terindah bagi cintamu. Ada yang menembak atau mengaku cinta? adinda pastikan saja keberaniannya mengucap akad di depan wali dan saksi.

Berani putus itu tanda sayang, tanda cinta yang sesungguhnya. Ini murni provokasi dari diri saya, putuskan saja hubungan yang mendurhakai-Nya.

Satu lagi, apa yang kita lakukan tak pernah luput dari penglihatan-Nya. Tidakkah kau merasa takut berbuat hal yang tidak disukai Allah?
Jauhkan diri dari janji dan andai-andai. Jangan pernah memberi harapan palsu baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain. Kita tak pernah tahu seberapa lama limit waktu kita hidup. Pastikan misi hidup yang baik selalu kita semat lekat-lekat dalam jiwa.

Kita akan memanen apa yang kita semai. Apa yang kita usahakan di dunia, hasil akhirnya tetap di akhirat. Manis tidaknya akan ditimbang di sana kelak. Cintai ia dengan cara yang manis, bukan dengan membenarkan apa yang biasa (pacaran), namun membiasakan perilaku yang benar (cintai dalam diam atau menikah). Cinta itu harganya tidak semanis manisan dan coklat, bukan pula seharum bunga dunia, namun cinta yang hakiki itu akan indah sesempurna surga yang diridhai-Nya.

Semangat hidup dalam ketaatan selalu bermuara pada keridhaan. Tujukanlah niat, kata, dan sikap ini hanya untuk-Nya.

Kata hati ini disuratkan tidaklah bermaksud untuk menggurui. Sungguh tak pantas aku menggurui sementara ilmu belum sampai seujung jari. Apa yang terketik hanya menyampaikan aspirasi dan motivasi untuk meraih cinta-Nya yang hakiki. Tentunya kalimat-kalimat itu ku telunjukkan pada diri sendiri sebagai media intropeksi dan pengingat hati. 

Aceh Besar, 19/03/2014
Sumber foto:
FB; Dakwah kreatif


Tentangmu, Ukhti

BY Unknown IN No comments

Semoga salam menjadi saksi kisah persaudaraan kita. Jua senyuman dapat menyemai bunga bagi hati yang kering dan tak berwarna. Semoga langkah mengekalkan ukhuwah. Semoga shalihah menjadi mahkota terindah yang kau semat.

Untukmu, ukhti. Apa kabarmu, saudariku? Adalah hal yang membuatku merindukanmu ketika melihat kain longgar yang terlabuh, kerudung besar yang melindungi mahkota indahmu. Indah kakimu terbalut rapi dengan kain yang disebut kaus itu. Bahkan, tak se-senti-pun batas auratmu kau biarkan terlihat oleh mereka yang tak berhak.

Hal pertama yang membuatku mencintaimu adalah ketaatanmu. Pekanya hatimu menolak maksiat, kuatnya tekadmu menjadi hamba yang selamat.

Kau tahu, ada yang bilang cantik itu relatif. Namun bagiku, kecantikanmu adalah mutlak, saudariku. Keshalihan itu menjadikanmu cantik sempurna selamanya.

Indahnya masa itu. Ketika kau bertemu dengan lelaki, kau tundukkan pandanganmu, kau jaga intonasi bicaramu. Arifnya sikap itu. Kau sikapi masalah dunia dan akhirat dengan ilmu. Majelis ilmu adalah rumah singgah yang kau cintai di dunia.

Cahaya wajahmu khas, sejuk bila dipandang. Tutur bahasamu indah bila didengar, bahkan diammu menjadi hal yang menyiratkan kebaikan. Terlebih mendengar suaramu membaca al-Qurán. Aya-ayat-Nya yang kau lantun damaikan jiwaku yang gusar memberontak, leburkan diri ini pada tenang tak bertepi.

Begitu rindu aku masa itu. Ketika kau bertanya: Hilda, nggak pakai manset? atau yang ini: hilda, semalam kok nggak bangun tahajjud? atau yang satu ini: Hilda, dhuha yuk.. dan yang ini: Hilda, ambil nasi untuk buka (puasa), yuk..

Kau pukul batinku yang lalai dengan indahnya nasihat itu. Meski ku tak gubris nasihat itu, kau sabar menanti perubahan itu dengan doa. Bila pun aku membuatmu marah, kau redakan wajahmu yang merah dengan basuhan wudhu. Bila pun hatimu galau dan gelisah, kau padu masalah itu dengan seperempat malammu, dengan tahajjud dan doa. Ketika ujian menghampiri, kau hadapi dengan sabar dan ikhlas yang tak tertandingi.

Ukhti, ajaklah aku bersamamu menjadi shalihah untuk-Nya. Mari saling menguatkan, saling mengisi kekurangan. Mengingatkan ketika lupa, menegur ketika khilaf.

Ukhti, sekian dulu surat sederhana ini. Selamat malam. Semoga doa membersamai kita menjemput mati (tidur). Semoga asma-Nya menjadi lafadz yang terucap ketika maut menghampiri.


Hilda Rahmazani, diri yang bercita mengekal ukhuwah bersamamu. ^^

Terbang dengan Sayap Terbaik

BY Unknown IN No comments

Teman, tulisan berikut memuat beberapa ulasan yang menggelitik batinku. Ku utarakan pengalaman pribadiku dalam catatan sederhana ini. Uraian ini murni curahan hati. Hehe.  Harapku semoga apa yang tertulis dapat menjadi sebuah literasi bagi hati untuk berintropeksi.

Pernahkah kau bermimpi, bercita-cita? Seberapa sering kau ciptakan mimpi baru? Seberapa kuat tekadmu untuk meraihnya?

Adalah lumrah memiliki keinginan untuk sukses di ranah mimpi masing-masing. Kau tahu, tiap kita berbeda namun boleh jadi kita miliki mimpi yang sama. Sebaliknya, tiap kita sama (dalam hal keyakinan) namun boleh jadi kata sukses yang kita kejar itu berbeda adanya. Dan boleh jadi pula, hati kita miliki niat yang sama, wujudkan mimpi yang sama pula.

Aku merasakan momen yang harus benar-benar ku syukuri. Sungguh, memiliki sahabat karib yang se-iya dan sekata dalam bercita-cita itu merupakan nikmat yang luar biasa. Mimpi kami sungguh besar (setidaknya menurut kami). Perjuangan itu tidak begitu sulit, karena kami berjuang bersama. Saling menyempurnakan itu kunci sukses yang kami pegang.

Kami bergerak bersama, berjuang mewujudkan cita-cita itu. Namun, hakikatnya, dua pohon yang sama, ditanam bersama, dijaga bersama, diberi pupuk yang sama, di tempatkan dalam kondisi yang sama, belum tentu memiliki keberhasilan yang sama. Sebut saja pohon A memiliki buah yang banyak, boleh jadi pohon B tidak. Kembali kepada takdir. 

Bagi dirimu yang posisinya seperti pohon B, tetap tawakkal dan berpikir positif. Sungguh, kata gagal itu hanya persepsi diri. Camkan kata gagal yang sesungguhnya dalam batinmu, ketika kau gagal menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan lagi, kategori gagal itu tak berlaku sekarang. Hari perhitungan adalah masa ketika gagal-menang itu diputuskan.

Ya, lebih kurang mimpi kami sama. Terbang. Yaa.. to the point-nya, kami ingin naik pesawat. Ups, lebih tepatnya aku, yang memiliki niat menggebu-gebu itu. Aku ingin berdiri mengangkasa di langit sana. Merasakan sesaat saja tidak menginjak bumi. Konyol? oh, aku rasa tidak. Aku merasa bahagia memiliki mimpi itu. hoho.

Kau tahu, dari awal, telah ku ikrarkan dalam diri untuk terbang dengan sayap (pesawat) terbaik. Selain terbaik, aku juga mengharapkan sayap itu gratis adanya. First Class lah. Tidak muluk-muluk, itulah salah satu mimpi kami di awal 2014. :D

Betapa besar kekuasaan Allah. Allahu akbar. Tiket pesawat yang suka menari-nari dalam anganku itu akan berubah menjadi nyata. Sebuah lomba telah kami menangkan dan kami berhak untuk terbang. ^^

Namun, sesaat sebelum mimpi itu terealisasi, hanya selangkah lagi, target terbang itu harus ku coret dari list target 2014. Betapa tidak, keberadaan sebuah 'ridha' menjadi faktor penting, sebuah penentu sebelum melangkah. 

Ridha siapa? Allah dan orangtua tentunya. Aku adalah seorang putri, amanah yang Allah titip pada kedua orangtua. Tiap orangtua memiliki cara berbeda dalam menjalankan amanah Allah dengan sebaik-baiknya. Mereka memberikan jurus terbaik dalam melindungi putra-putrinya dari marabahaya. Ada orangtua yang menyayangi putra-putrinya dalam diam, ada pula yang langsung mengarahkan dengan kata dan tindakan.

Kau tahu, ketika orangtua melarangku berangkat, berusaha ''menghapus'' target itu dari list mimpiku, setidaknya aku batinku didera dua rasa sekaligus. Senang dan sedih. Aku bahagia karena aku merasakan kasih sayang mereka begitu nyata adanya. Dan pun, merasa sedih adalah hal yang wajar ketika kita tahu, kita harus memutuskan untuk merelakan (juga melupakan) apa yang kita cintai.

Allah Maha Besar. Dia lah yang memberikan kekuasaan, kebahagiaan, mau pun kesuksesan pada siapa pun yang ia kehendaki, dan Dia pula yang mencabutnya dari siapa saja yang telah diberi. Lagi, Allah Maha Besar. Sebuah ayat melekat erat di memoriku, inna akramakum 'inda Allahi atqaakum. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa. Apa yang sesungguhnya kau kejar, Hilda? Bukankah kita harus menuruti apa pun pinta orangtua, selama apa yang diperintahkan oleh orangtua itu baik. 

Aku belajar banyak hal dari momen ini. Arti kata sabar, tawakkal, sukses, mimpi, sayap terbaik, dan ikhlas itu sungguh benar-benar ku pahami sekarang. Ku renungi kembali arti sukses yang sesungguhnya. Memang berat pada awalnya, namun aku harus bertahan pada kondisi (cobaan) tersulit sekali pun. Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ada hikmah yang indah dibalik ujian yang diberikan-Nya.

Sesaat setelah ''warning'' untuk segera melupakan sebuah cita yang sangat ku idamkan, tentulah hati ini  bergemuruh. Namun aku tidak marah pada keputusan itu. Aku hanya merasa telah mengecewakan orang lain. Ya, tentunya sahabat se-iya se-kataku tadi, juga mungkin guru dan lainnya yang mengharapkan kami berangkat menyelesaikan cita-cita itu. 

Ku coba korelasikan kembali antara kecewa dan takdir. Antara mimpi dan ridha. Antara kata bahagia sesaat dan sukses selamanya.

Memang sedih, meninggalkan karib untuk melangkah sendiri. Namun, ia adalah teman yang luar biasa. Alhamdulillah, ia bisa menerima kondisiku. Aku percaya, ia bisa terus bergerak, meraih apa yang ia mimpikan. Teman, ku harap kau tetap menjadi pemimpi yang hebat. Sayap kita mungkin berbeda, namun bukankah tujuan penerbangan kita sama? Bukankah yang kita tuju hanyalah ridha-Nya?

Sahabat, terus ku ingat ayat Allah yang kau ucapkan di ruang kuliah siang itu. Kira-kira beginilah maknanya: Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, sungguh akan kami berikan baginya jalan yang mudah. 

Oh ya, aku pun tersadar, sayap terbaik yang aku kejar itu sungguh benar-benar terbaik. Realisasi kata ''sayap terbaik'' itu mungkin bukan sebuah tiket pesawat berkelas, hehe. Allah maha mengerti, 'tiket 'terbaik'' yang bagaimana yang sesuai untukku.

Ketika kesulitan itu terus menghimpit, jagalah jiwa dari rasa putus asa. Mari gaungkan selalu makna ayat-Nya dalam benak kita, misalnya seperti surah Al-insyirah, betapa dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan. ^^

Tiket pesawat duniawi bukanlah mimpi sejati, namun tiket di akhiratlah sesungguhnya hadiah yang hakiki. 

Tetaplah menjadi hamba yang hebat. Milikilah mimpi yang besar dengan jiwa yang besar.  ^^
Terus bulatkan tekad, terus kepakkan sayap (usaha) terbaik.

Tuliskan dalam hati makna kalam-Nya yang satu ini. Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah MENCINTAI orang-orang yang bertawakkal. :)

Banda Aceh, 2/3/2014

sumber gambar: vsimiracle.com

Saturday, 8 February 2014

Urgensi Pendidikan Islam dalam Menghadapi Pendangkalan Aqidah di Aceh

BY Unknown IN , , , 2 comments



          Aceh merupakan propinsi satu-satunya di Indonesia yang memperoleh kedaulatan penuh dalam merealisasikan syari’at Islam secara struktural. Implementasi syariat Islam di Aceh adalah sebuah agenda besar bagi pemerintah. Masyarakat Aceh memang sudah lama mengenal Islam, yang dahulu pernah berjaya di tanah rencong tersebut. Eksistensi Islam di tengah-tengah komunitas masyarakat Aceh telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah perkembangan sosio-kultural.


        Secara historis, Aceh terdiri dari berbagai negara bagian kecil seperti Peureulak, Samudra Pasai, Pidie dan Daya. Karenanya awal abad XVI, Aceh adalah satu negara yang besar setelah seluruh kerajaan bersatu di bawah bendera kekuasaan Aceh Darussalah (cikal bakal nama propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pasca era reformasi). Namun ketika Aceh diperintah oleh empat ratu dan sultan-sultan berikutnya, kerajaan Aceh mengalami kemunduran yang pada akhirnya saat Indonesia merdeka, para pemimpin Aceh memutuskan untuk bergabung dengan republik Indonesia.[1]

Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan telah mendapat perhatian dan prioritas utama masyarakat muslim Indonesia. Hal itu karena besarnya arti pendidikan dan kepentingan dakwah Islamiyah (Islamisasi) yang mendorong umat Islam mengadakan pengajaran agama Islam. Sistem pembelajarannya  dilakukan secara sederhana yaitu diberikan dengan sistem halaqah. Pengajaran tersebut dilaksanakan di tempat-tempat ibadah semacam mesjid, mushalla/langgar, juga di rumah-rumah ulama. Kebutuhan terhadap pendidikan mendorong masyarakat Islam di Indonesia mengadopsi dan mentransfer lembaga keagamaan dan sosial yang sudah ada ke dalam lembaga pendidikan Islam. 

        Pesatnya perkembangan pendidikan pada masa tersebut ditandai dengan beberapa hal; Pertama, perhatian sultan yang cukup besar terhadap pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan, yaitu turut berperannya sultan dalam membangun lembaga-lembaga pendidikan. Kedua, datangnya para ulama yang ahli dalam bidangnya masing-masing ke Aceh, baik atas undangan dari para sultan atau dengan inisiatif sendiri. Ketiga, tersebarnya  lembaga-lembaga pendidikan Islam di seluruh wilayah kesultanan Aceh.[2] Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, beliau mempunyai minat yang sangat besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga untuk itu banyaklah dayah-dayah (pesantren-pesantren) yang didirikannya.[3]

Pendidikan Islam yang berkembang di Aceh terdiri dari dayah, madrasah atau meunasah, dan pesantren. Dayah merupakan lembaga pendidikan Islam pertama di Aceh. A.Hasyimi seorang Sejarawan Aceh, beliau berpendapat bahwa Dayah masuk ke Aceh sejak awal berdirinya Kerajaan Islam Pereulak pada Muharram 225 H/840 M. Dayah berasal dari kata zawiyah, kata ini dalam bahasa Arab mengandung makna sudut, atau pojok Mesjid. Kata zawiyah mula-mula dikenal di Afrika Utara pada masa awal perkembangan Islam, zawiyah yang dimaksud pada masa itu adalah satu pojok Mesjid yang menjadi halaqah para Sufi, mereka biasanya berkumpul bertukar pengalaman, diskusi, berzikir dan bermalam di Mesjid. 

Dalam khazanah pendidikan Aceh, istilah zawiyah kemudian berubah menjadi Dayah, seperti halnya perubahan istilah Madrasah menjadi Meunasah. Sejarah membuktikan bahwa Sultan pertama di kerajaan Peureulak (840 M.), meminta beberapa ulama dari Arabia, Gujarat dan Persia untuk mengajar di lembaga ini. Untuk itu sultan membangun satu dayah yang diberi nama “Dayah Cot Kala” yang dpimpin oleh Teungku Muhammad Amin, belakangan dikenal dengan sebutan Teungku Chik Cot Kala. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di kepulauan Nusantara.[4]

Sementara pesantren berasal dari “santri” yang berarti seorang yang belajar agama Islam, demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam.[5] Menurut Abdul Qadir Djailani dalam bukunya Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, Samudera Pasai merupakan pusat pendidikan Islam pertama di Indonesia dan dari sini berkembang ke berbagai daerah lain di Indonesia, hingga sampai ke Pulau Jawa. T. Syamsuddin dalam Jeumala  bahwa meunasah adalah tempat yang dibangun sebagai pusat kegiatan masyarakat gampông, karena meunasah merupakan suatu lembaga tradisional yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh.[6] 

Meunasah adalah lembaga tradisional Aceh, yang telah menyatu dengan masyarakat Aceh di manapun masyarakat Aceh itu tinggal, karena di mana ada orang Aceh disitu ditemukan meunasah. Meunasah, secara etimologi berasal dari bahasa Arab, yakni madrasah, yang berarti tempat belajar. Dalam perjalanan waktu kata madrasah itu oleh masyarakat Aceh berobah menjadi meunasah.[7] Terminologinya adalah tempat untuk salat dan juga digunakan untuk belajar tentang ilmu keislaman pada tingkat dasar termasuk orang yang baru belajar membaca al Qur’an.[8]

Dayah dalam komunitas masyarakat Aceh merupakan sarana strategis dalam proses transmisi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu agama dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain itu fungsi dayah juga sebagai institusi yang selalu memberikan respons terhadap persoalan sosial kemasyarakatan yang terjadi di Aceh. Peran dayah dan ulama dayah hasil didikannya menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat. Ulama dayah harus selalu siap menjadi pengawal bagi terciptanya komunitas intelektual di negeri Seuramo Meukkah. Realitas sejarah mengungkapkan bahwa lembaga dayah mempunyai empat kegunaan yang sangat signifikan bagi masyarakat Aceh, yaitu sebagai pusat belajar agama (the central of religious learning), sebagai benteng terhadap kekuatan melawan penetrasi penjajah, sebagai agen pembangunan, dan sebagai sekolah bagi masyarakat.[9]

Akhir-akhir ini, problematika dalam masyarakat Aceh sangat krusial, yakni masalah penyimpangan dalam aqidah. Arus globalisasi, akulturasi budaya asing, dan gencarnya perang pemikiran menyebabkan penerapan syari’at islam menjadi sulit. Terlebih lagi, maraknya pendangkalan aqidah yangdilakukan oleh misionaris datau kristenisasi yang telah masuk ke dalam masyarakat. Hal ini merupakan tantangan yang besar bagi umat Islam. Allah Swt. Telah menegaskan dalam surah al-Baqarah ayatn 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)." 

Kegiatan misionaris ini kembali semarak setelah musibah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, di mana Aceh menjadi daerah yang sangat terbuka untuk didatangi oleh berbagai warga negara dengan beragam agama.Peristiwa dahsyat  yang  menimpa masyarakat Aceh tersebut, ternyata telah menimbulkan rasa simpatik masyarakat baik yang berasal dari dalam negeri, maupun masyarakat luar negeri (internasional). Berbagai bantuan mengalir  ke Aceh, terutama masa-masa tanggap darurat (emergency), dan sampai hari ini upaya membantu  Aceh melalui donor, NGO dan LSM lokal terus berlanjut. Bantuan berupa makanan, pakaian, perumahan, sarana produksi, bantuan ekonomi, rumah ibadah dan bantuan-bantuan lain merupakan simpatik kemanusiaan dan bentuk kepedulian terhadap penderitaan masyarakat Aceh.[10]

Semakin maraknya kejadian pendangkalan aqidah tersebut mengakibatkan banyaknya sikap anarkis dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Menangani maslah ini, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengeluarkan beberapa fatwa, diantaranya, hukum membina, mempertahankan dan menjaga aqidah Islamiyah bagi orang Islam adalah wajib, membiarkan pendangkalan aqidah dan pemurtadan umat Islam adalah haram, dan hokum memberikan penyadaran (istitabah) terhadap orang yang sesat dan murtad adalah wajib. Apabila terjadi kasus pemurtadan pada umat Islam, maka sesuai dengan Qanun. 11 tahun 2002, pelaku pemurtadan dan pendangkalan aqidah akan diberikan sanksi.[11] Falsafah negara Pancasila, mengamanatkan bahwa  sesama pemeluk agama harus saling hormat menghormati dan hargai-menghargai. 

Amanah ini ditindak lanjuti dengan Keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang melarang menyebarkan agama kepada pemeluk yang sudah beragama. Kegiatan yang meresahkan masyarakat ini akhirnya direspon dan ditindak lanjuti oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR NAD-Nias) dengan  membetuk Tim Pembinaan dan Pengawasan Pendangkalan Aqidah, dengan SK  No. 23/KEP/BP-BRR/II/2006. Tim ini bertugas  untuk melakukan investigasi, pembinaan, dan pengawasan, analisa dan merumuskan laporan tentang kegiatan atau usaha-usaha yang mengarah kepada pendangkalan aqidah Islamiyah, untuk mendapatkan solusi dan penanganan yang tepat demi penyelamatan aqidah rakyat Aceh.[12]

Pelaksanaan syari’at Islam secara kaffah sangatlah berkaitan dengan aqidah masyarakat yang benar serta kapasitas keilmuan masyarakat menghadapi tantangan global. Keberadaan lembaga dayah dan meunasah bagi pengembangan pendidikan di Aceh sangatlah urgen, dan kebermaknaan kehadirannya sangat dibutuhkan dalam membentuk umat yang berpengetahuan, jujur, cerdas, rajin dan tekun beribadah yang kesemuanya itu sarat dengan nilai. Aqidah merupakan tolak ukur bagi akhlak seseorang. 

Apabila aqidah seseorang sudah kuat, ia pasti tidak akan berani melakukan kecurangan dan kemaksiatan. Dalam berdakwah, perubahan pertama yang diseruka oleh Rasul-rasul Allah. Rasulullah saw. memperjuangkan aqidah islam selama 13 tahun di Makkah, kemudian di Madinah untuk menegakkan pilar-pilar tauhid. Jika dianalogikan, keterkaitan syariat dengan Aqidah seperti bagian dari sebuah pohon. Aqidah diibaratkan seperti akar sebuah pohon, bila akarnya kokoh, maka kokohlah pohon tersebut. Sementara syariat diibaratkan sebagai dahan dari pohon, yang merupakan bagian dari aqidah. Jadi, aqidah adalah suatu fundamen dari implementasi  syariah.

Ketidakpahaman masyarakat akan aqidah yang benar dipicu karena motivasi maupun minat masyarakat dalam mengajarkan dan mempelajari Islam kurang sehingga asyarakat tidak mengenal nilai benar dan salah dalam implementasi aqidah. Umar bin Khattab r.a berkata, “ sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.” Faktor lain yang menyebabkan penyimpangan dalam aqidah adalah Ta’ashshub (fanatik). Biasanya Tawashshub ini didominasi fanatik terhadap sesuatu yang diwarisi oleh nenek moyang. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ; 170 yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"

Taqlid buta, yaitu berpedoman pada pendapat manusia dalam maslah aqidah tanpa mengetahui dalil yang benar. hal tersebut terjadi pada golongan mu’tazilah yang mengikuti imam yang sesat dari orang-orang sebelum mereka. Ghulluw (berlebihan) dalam mencintai orang-orang yang shalih, para wali Allah juga dapat melatarbelakangi penyimpangan dalam aqidah. Pasalnya, secara tidak langsung, mereka telah menempatkan derajat orang-orang shalih yang diberi karamah oleh Allah tersebut dengan berlebihan. Aplikasi yang dilakukan mialnya seperti berdoa di makam para wali Allah dengan mengharapkan sesuatu hal yang mendatangkan kebaikan melalui wali Allah tersebut dan perbuatan lainnya yang mengacu pada kesyirikan.

Implementasi aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah aqidah salaf. Aqidah salaf adalah keyakinan terhadap ajaran agama islam sesuai dengan keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.[13]Aqidah salaf adalah istilah yang diambil dari dua kata; aqidah dan salaf. Kata aqidah dalam bahasa Arab memiliki pengertian ikatan, keyakinan dan kepastian. Aqidah adalah sesuatu yang diyakini hatinya dengan pasti dan mengikat, baik itu benar ataupun batil. Sedangkan dalam istilah para ulama, aqidah adalah perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menerimanya dengan penuh hingga menjadi satu keyakinan yang tidak dicampuri keraguan dan kebimbangan.[14]

Sementara kata salaf, Al Ghazali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam An Ilmil Kalaam hal 62 ketika mendefinisikan kata As Salaf: “Saya maksudkan adalah madzhab sahabat dan tabiin.” Al Baijuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharu At Tauhid hal. 111: “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang yang terdahulu, yaitu para Nabi, sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin.” Rasulullah saw. bersabda , “Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf ) bagimu adalah aku.”[15]

Allah menciptakan makhluk agar mereka bisa mengenalnya.[16] Allah menjelaskan hal ini dalam surat Al-A’raf :172-173, yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"
Dalam mengenal Allah, kita harus mengenal aqidah yang benar. Mengenal aqidah yang benar merupakan satu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi di masa seperti ini, masa yang penuh dengan ujian dan cobaan hidup. Disamping juga dipenuhi usaha penyesatan dan pemurtadan baik melalui kebidahan yang samar sampai kepada kekufuran yang paling jelas.[17] I’tiqad Ahlus Sunnah adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk.[18] 

Iman dari segi bahasa menurut banyak kalangan adalah membenarkan. Iman adalah pengakuan yang berkonsekuensi kepada sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum. Keimanan itu merupakan ‘aqidah dan pokok, yang diatasnya berdiri syari’at Islam.[19] Keimanan yang mantap dapat terwujud dengan adanya perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Qur’aniyah agar terwujudnya rasa penghambaan diri kepada Allah, Sang Pencipta. Selanjutnya, faktor pendidikan formal dan informal dan media juga sangan mempengaruhi kekuatan aqidah seseorang.
Akidah akan menuntun manusia dalam pemikiran, kejiwaan, social, dan sisi akhlak. Adanya aqidah sebagai kontrol sosial dalam akhlak akan menjadi jalan menuju masyarakat madani yang unggul. Aqidah (tauhid) berimplikasi pada ibadah dan muamalah. Dalam hal ini, Dr. Kaelany juga menjelaskan adanya dua prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu:
1.        Manusia dilarang “menciptakan agama, termasuk system ibadah dan tata caranya, karena masalah agama dan ibadah adalah hak mutlak Allah dan para Rasul-Nya yang ditugasi menyampaikan agama itu kepada masyarakat. Maka menciptakan agama dan ibadah adalah bid’ah.Sedang setiap bid’ah adalah sesat.
2.        Adanya kebebasan dasar dalam menempuh hidup ini, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan masalah mu’amalah, seperti pergaulan hidup dan kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan, yang dikaruniakan Allah kepada umat manusia (Bani Adam) dengan batasan atau larangan tertentu yang harus dijaga. Sebaliknya melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bid’ah.

Masyarakat yang memiliki tingkat keilmuan dan mengamalkan syariat dengan baik merupakan ciri masyarakat madani, yang merupakan wujud dari kehidupan masyarakat sejahtera yang memiliki fondasi aqidah yang kokoh. Begitu pula sebaliknya, jika masyarakat tidak memiliki pemahaman terhadap aqidah yang benar, penyimpangan-penyimpangan dalam aqidah dapat terjadi. Peningkatan akhlak umat Islam dapat dilihat dari sejauh mana perhatian pemeritah dan masyarakat bekerjasama memperbaiki aqidah umat Islam, terutama melalui sector pendidikan. Dalam hal ini, lembaga pendidikan dayah dan pesantren di Aceh harus dioptimalkan fungsi dan kedudukannya agar terciptnya kaderisasi ulama yang dapat menggandeng umat dalam memperkokoh aqidah. Perhatian pemerintah lebih komprehensif dalam mengoptimalkan eksistensi para ulama di tengah-tengah masyarakat agar terciptanya masyarakat yang terarah dalam agama dan sejahtera. 

Upaya pembentukan aqidah yang kokoh dapat dimulai dari mengubah sistem pendidikan yang benar-benar Islami. Setiap keluarga harus menanamkan sikap dan perilaku islami dalam kehidupan. Pemerintah serta masyarakat harus mengontrol perkembangan pendidikan dari upaya pihak tertentu yang menyisipkan sistem yang mendangkalkan aqidah. Pemerintah harus mencanangkan program wajib belajar ilmu agama tidak hanya bagi pendidikan formal tetapi juga dalam masyarakat melakukan kegiatan bimbingan dan penyuluhan hokum Islam dalam masyarakat .melalui pengajian rutin dan tabligh akbar.  Kegiatan tersebut akan menjadi mediator masyarakat memperoleh ilmu agama sekaligus membentengi diri dari upaya penyimpangan aqidah. Apabila optimalisasi penanaman nilai aqidah salaf dalam sector pendidikan terus digalakkan dan diterapkan, maka masyarakat akan terarah sehingga terciptalah sebuah kondisi Aceh yang kondusif dan sejahtera, Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur.




[1] Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah, Pengawal Agama Masyarakat Aceh (Lhokseumawe: Nadiya Foundation, 2003), h. 1.
[2] Muslim A. Djalil, dalam artikel meunasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Aceh.
[3] Hasyimi, Sejarah kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1990, hlm. 192
[4] Amiruddin, Ulama Dayah, h. 36 – 37.
[5] Haidar Putra Daulay, Historisitas dan Eksistensi: Pesantren dan Madrasah (Yogjakarta: Tiara Wacana, 2001), h. 7
[6] T. Syamsuddin, “Peranan Meunasah Sebagai Pusat Pendidikan dalam Masyarakat Aceh”, Majalah Jeumala, diterbitkan oleh: Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), No. 5 (Maret – April 1993), hlm. 17
[7] A. Hasyimi, Mnera Johan (Bandung: Bulan Bintang, 1976), h. 104.
[8] Amiruddin, Pranata Islam, h. 119.
[9] Amiruddin, Ulama Dayah, h. 42.
[10] Sayed Azhar dalam artikel KRISTENISASI/MISIONARIS; Realitas dan Solusinya.
[11] Fatwa MPU Aceh nomor 5 tahun 2010 tentang pendangkalan aqidah dan pemurtadan
[12] Ibid.
[13] Kholid Syamhudi, Lc. dalam Aqidah wasithiyah, penjelasan Aqidah Islam (bagian 1)
[14] Al-Wajiz fi Aqidah as-Salaf hal. 20
[15] HSR Muslim No. 2450
[16] Aqidah Khalaf dan Salaf, DR. Yusuf Qaradhawi (Pustaka Al-Kautsar: 2009) h. 9
[17] Kholid Syamhudi, Lc. dalam Aqidah wasithiyah, penjelasan Aqidah Islam (bagian 1)
[18]Buku Induk Akidah Islam Syarah ‘Aqidah Wasithiyah oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (Pustaka Sahifa: 2011), hlm. 85
[19]Sayid Sabiq dalam Aqidah Islam, pola Hidup manusia beriman. (Perbit Diponegoro: 2010) h. 5

Sumber foto: http://kfk.kompas.com/kfk/view/69226